Selasa, 27 Juli 2010

bingkain kematian

deras arus jaman
menghanyutkan yang lemah ke pusara
liukan kain harap di setiap aliran sungai
menuju ke tumpuan akan kematian

tak peduli itu gembel
atau juga yang pemilik tahta di dunia
toh semua kan merasakan juga
apa yang ada akan menjadi bingkai

bingkai sejarah yang terukir manja
tak tertulis dalam koran
namun tersirat dalam lembar in memoriam
kematian adalah jawaban

derap debu di setiap menit
selalu membawa kabar tentang siapa saja yang menemukan ajalnya

dia berkuasa
namun tidak pada saatnya
dia seorang buta
namun tidak pada saatnya
dia adalah ulama
namun tidak pada waktunya
dia seorang ibu muda
namun tidak pada perjalanannya
dia pemberi jasa
namun sirna ketika datang ajalnya

kematian
pikirkan akan waktu kematian
karna kita nanti mutlak akan pasti menyambangi liang itu
liang saat kita sendiri
tanpa ada yang menemani
tanpa ada yang bisa kita sogok untuk tak di eksekusi

kematian
nisan darah dan noda tanah
akan membalut dan menjadi tanda itu tempat kita

10 komentar:

  1. pertamaxxx....
    halo sobat berkunjung nich
    sukses selalu
    terima kasih

    BalasHapus
  2. bener Sob.... mau gembel mau angota dewan klo udah masa dan saatnya ya mesti menghadap Sang Khalik juga...

    Semangat N Happy blogging...

    BalasHapus
  3. Jadi ngeri nih pak Dhe :)

    BalasHapus
  4. waduh,,, mati?
    pasti itu mah...
    aku dan akang akan mati
    tunggu aja saatnya :D

    BalasHapus
  5. kematian.. suatu kepastian yang akan terjadi pada semua makhluk_Nya...

    BalasHapus
  6. salam kenal mas.. penyuka puisi juga ya...:)

    BalasHapus
  7. Siank Pak Tani Tani... aku datang berkunjung.. wah belum bikin Puisi baru ternyata sang pujangga ini hhe...

    Semangat N happy blogging!!!

    BalasHapus
  8. dan saat raga meregang,ditinggalkan jiwa dalam kesendirian,yang tersisa hanyalah kesunyian.

    sesama penyuka puisi pak Tani

    BalasHapus
  9. met sore sobat
    berkunjung nich
    terima kasih

    BalasHapus