jangkrik-jangkrik bernyanyi di tepian zaman
ketika ucapan berubah menjadi doa
seperti gemericik hujan yang basuh raga
melenggangkan harapan dari tumpuan badan
sedikit harap hilang di meja jamuan
begitu juga dengan nyala lilin di ujung sumbu
menjadi butir-butir indah beterbangan
yang di hadiahkan kunang-kunang saat diri meragu
satu pinta akan kehidupan yang layak
tak terkabul dari tubuh mungil yang semakin mengering
bukan dunia ini adalah ladang tandus tak pernah di sapa hujan?
tapi ada pakaian yang lebih layak dari pada nikmat dunia
yang bersifat kekal pada waktunya
ketika kita dapat bertegur sapa dengan pencipta
tanpa ada batasan di hadapan
mungkin kalian bertanya ada apa dengan pak tani yang seringkali melamun di tengah padang ilalang? mengapa iya selalu menyapa sapi-sapi gembala nya.tak pernah lain dan tak juga bukan karna mimpi tak dapat di beli. sedang untuk makan sehelai ilalang saja dia harus terus berjalan berkilo-kilo meter jauhnya. tapi banyak juga yang tak pernah mengerti siapa pak tani ini
Kamis, 28 Oktober 2010
Rabu, 27 Oktober 2010
DITUNGGANGI
aroma liang lahat di ujung misiu
berkeliaran bebas tanpa melihat sekitar
pecahkan amarah
muntahkan darah dari tubuh-tubuh tak berdosa
berjuta malaikat pencabut nyawa
bertameng helm baja berdiri tegak menebar pesona
menunggu aba-aba dari sang kusir di kursi kerajaan
melenyapkan nyawa terpisah dengan raga
satu tontonan menarik ketika setan menunggangi jiwa
otak, akal dan hati di belenggu menuju tarian pesta
pesta dajal berlakon penguasa
memeras rakyat untuk dapat menceboki mereka
dalang menari dengan segelas anggur di tangan
para wanita ditiduri dengan perasan susu sembarang
bocah-bocah di tembak mati agar tak berkicau
derap langkah terpatri di depan gerbang pintu makam.
berkeliaran bebas tanpa melihat sekitar
pecahkan amarah
muntahkan darah dari tubuh-tubuh tak berdosa
berjuta malaikat pencabut nyawa
bertameng helm baja berdiri tegak menebar pesona
menunggu aba-aba dari sang kusir di kursi kerajaan
melenyapkan nyawa terpisah dengan raga
satu tontonan menarik ketika setan menunggangi jiwa
otak, akal dan hati di belenggu menuju tarian pesta
pesta dajal berlakon penguasa
memeras rakyat untuk dapat menceboki mereka
dalang menari dengan segelas anggur di tangan
para wanita ditiduri dengan perasan susu sembarang
bocah-bocah di tembak mati agar tak berkicau
derap langkah terpatri di depan gerbang pintu makam.
Senin, 25 Oktober 2010
dalam waktu
putaran roda mengejar langkah waktu
menuju dimensi antara rangkaian mimpi
membeli ketulusan hati memburu raga yang lebih tinggi
dalam ruang nuansa memancarkan pesona
dalam wujud yang berusaha jadi nyata
mahkota di atas kepala bertengger mesra
dan sejuta gerak telunjuk mengarah acak
menjadi tragedi terkubur di sungai musi
di gerus gelombang saat kapal angkuh memecah tenang
liukan awan-awan saat senja menjelang
diikuti sapa mesra malaikat pencabut nyawa
mata melihat, mulut tak sanggup berucap
mengecap taubat telah menginjak-injak semut dan rayap
dalam relung waktu terukir bingkai kehidupan
tertumpu tingkah pola yang menjadi wacana
akan cambuk juga siksa para terdakwa
di hadapan sang pemilik dunia dan raga.
menuju dimensi antara rangkaian mimpi
membeli ketulusan hati memburu raga yang lebih tinggi
dalam ruang nuansa memancarkan pesona
dalam wujud yang berusaha jadi nyata
mahkota di atas kepala bertengger mesra
dan sejuta gerak telunjuk mengarah acak
menjadi tragedi terkubur di sungai musi
di gerus gelombang saat kapal angkuh memecah tenang
liukan awan-awan saat senja menjelang
diikuti sapa mesra malaikat pencabut nyawa
mata melihat, mulut tak sanggup berucap
mengecap taubat telah menginjak-injak semut dan rayap
dalam relung waktu terukir bingkai kehidupan
tertumpu tingkah pola yang menjadi wacana
akan cambuk juga siksa para terdakwa
di hadapan sang pemilik dunia dan raga.
Sabtu, 23 Oktober 2010
derap
dawai-dawai nada kehidupan
terangkum dalam barisan lamunan senja
di tepian rinihan sajak
dari lantunan langkah terseok
baris demi baris kalimat terlampaui
mendewasakan yang hidup di dunia
kepulan asap kejenuhan tersulut
tergantung di tembok-tembok ratapan
berada sejengkal dari cahaya
merubah gelap yang dibutakan mata
meraba dengan seksama
menyentuh ajal di pelupuk mata
jangan pernah menjadi kayu bakar
menghanguskan semuda dengan lahap
berusahalah menjadi obor
menerangi jalan setapak yang pasti mengantar ke tujuan
terangkum dalam barisan lamunan senja
di tepian rinihan sajak
dari lantunan langkah terseok
baris demi baris kalimat terlampaui
mendewasakan yang hidup di dunia
kepulan asap kejenuhan tersulut
tergantung di tembok-tembok ratapan
berada sejengkal dari cahaya
merubah gelap yang dibutakan mata
meraba dengan seksama
menyentuh ajal di pelupuk mata
jangan pernah menjadi kayu bakar
menghanguskan semuda dengan lahap
berusahalah menjadi obor
menerangi jalan setapak yang pasti mengantar ke tujuan
Selasa, 19 Oktober 2010
tertunduk
dimensi mimpi mengalir di ladang emosi
tangan membasuh air mata
dari gemericik hujan yang turun di sela-sela mata
membawa satu petanda nada yang sedang bergentayangan
rasa di belenggu di antara
wangi bunga terhendus dalam jiwa
dalam raga terpancar satu pesona
dari insan yang terhimpit dunia
tangan membasuh air mata
dari gemericik hujan yang turun di sela-sela mata
membawa satu petanda nada yang sedang bergentayangan
rasa di belenggu di antara
wangi bunga terhendus dalam jiwa
dalam raga terpancar satu pesona
dari insan yang terhimpit dunia
Minggu, 17 Oktober 2010
waktu malam di anyer
dan aku kembali terperangkap dalam permainan waktu
kala bibir tipis mu melantunkan nada merdu
menyapa hati dengan gerakan menggoda
dan mencumbu harapan yang lama aku tinggalkan
dalam elegi tentang rasa
mungkin kita bak obor di tengah padang ilalang
menjadi terang di sekitar
namun tumpah menjadi api dan membakar segala
menikmati rasa yang telah lama hanyut
terbawa lumbung jiwa menuju satu penjara raga
ini permainan rasa yang kita ukir di tepian pantai
yang kemudian hanyut karna botol terbawa arus menuju ke tengah
kita lepaskan semua rasa dari beringin dunia
berguguran bak daun jati di musim semi
pecah ruah menumpahkan segala curahan tentang kebebasan
kemudian kembali berlayar karna layar tlah menunggu
kala bibir tipis mu melantunkan nada merdu
menyapa hati dengan gerakan menggoda
dan mencumbu harapan yang lama aku tinggalkan
dalam elegi tentang rasa
mungkin kita bak obor di tengah padang ilalang
menjadi terang di sekitar
namun tumpah menjadi api dan membakar segala
menikmati rasa yang telah lama hanyut
terbawa lumbung jiwa menuju satu penjara raga
ini permainan rasa yang kita ukir di tepian pantai
yang kemudian hanyut karna botol terbawa arus menuju ke tengah
kita lepaskan semua rasa dari beringin dunia
berguguran bak daun jati di musim semi
pecah ruah menumpahkan segala curahan tentang kebebasan
kemudian kembali berlayar karna layar tlah menunggu
Rabu, 13 Oktober 2010
slogan
awalnya kita adalah sama
dari tulang rusuk adam dan hawa
namun karna bumi harus berevolusi
akhirnya kita membedakan diri
tapi sebenarnya kita masih satu rumpun
tanah yang sama, juga air susu yang sama pula
mengapa kita tak saling mengeratkan tangan?
berjabatan dan melangkah beriringan...
tak ada satu agamapun yang inginkan perpecahan
injil, taurat, zabur dan alquran pun mensiratkan tentang perdamaian
tercipta teknologi hanya menjadi ladang konspirasi
membunuh dan meracuni berniat mengurangi populasi
sedang slogan besar di jalan utama berkata cerdas
tentang penggunaan kondom juga KB
namun nyatanya rencana tak sesuai perhitungan di atas kertas
sampai akhirnya kita bak kutu-kutu yang di pitas
bom bardir sana sini untuk mengurangi populitas
dari tulang rusuk adam dan hawa
namun karna bumi harus berevolusi
akhirnya kita membedakan diri
tapi sebenarnya kita masih satu rumpun
tanah yang sama, juga air susu yang sama pula
mengapa kita tak saling mengeratkan tangan?
berjabatan dan melangkah beriringan...
tak ada satu agamapun yang inginkan perpecahan
injil, taurat, zabur dan alquran pun mensiratkan tentang perdamaian
tercipta teknologi hanya menjadi ladang konspirasi
membunuh dan meracuni berniat mengurangi populasi
sedang slogan besar di jalan utama berkata cerdas
tentang penggunaan kondom juga KB
namun nyatanya rencana tak sesuai perhitungan di atas kertas
sampai akhirnya kita bak kutu-kutu yang di pitas
bom bardir sana sini untuk mengurangi populitas
Senin, 11 Oktober 2010
bisik alam
layar berkembang di samudra lepas
burung-burung camar panik dari balik sarang
penyu-penyu berlarian ke pesisir
lumba-lumba sibuk selamatkan jutaan jiwa
laut berteriak, menyapu pencuri ikan
gunung-gungung muntah, semburkan lahar panas ke kota-kota
hutan dan dedaunan marah
menimbun mereka dengan lumpur segar
mari kita bertafakur
menyadari keegoisan yang tak kunjung usai
mungkin mereka sedang berkata
"sudahi semua dan sisakan kami untuk anak cucumu kelak"
resapi bisikan dedaunan yang sedang melantunkan doa
coba kita bersatu dengan alam
dan hargai mereka sebagai ciptaan TUHAN
burung-burung camar panik dari balik sarang
penyu-penyu berlarian ke pesisir
lumba-lumba sibuk selamatkan jutaan jiwa
laut berteriak, menyapu pencuri ikan
gunung-gungung muntah, semburkan lahar panas ke kota-kota
hutan dan dedaunan marah
menimbun mereka dengan lumpur segar
mari kita bertafakur
menyadari keegoisan yang tak kunjung usai
mungkin mereka sedang berkata
"sudahi semua dan sisakan kami untuk anak cucumu kelak"
resapi bisikan dedaunan yang sedang melantunkan doa
coba kita bersatu dengan alam
dan hargai mereka sebagai ciptaan TUHAN
Jumat, 08 Oktober 2010
LANGKAH
kematian adalah bagian dari hidup
sedang waktu merupakan bagian akan perjalanan
kawan, saudara dan lawan adalah bumbu peemainan
dan pengalaman bekal, yang akan menjadi cerita anak cucu kelak
jangan pernah melamun akan putaran roda
nikmati sayup-sayuo angin yang menyapa diri
sebida mungkin basuh diri dengan senyum dan kasih sayang
agar tak terlalu cepat kulit mengkertu dan menyesal ajal cepat datang
berusahalah menjadi setitik cahaya untuk sekitar
yang berguna untuk mencerahkan jalan setapak dalam remang
berusahalah menciptakan senyum di manapun
walau susah dan gundah gulana sedang menerpa...
sedang waktu merupakan bagian akan perjalanan
kawan, saudara dan lawan adalah bumbu peemainan
dan pengalaman bekal, yang akan menjadi cerita anak cucu kelak
jangan pernah melamun akan putaran roda
nikmati sayup-sayuo angin yang menyapa diri
sebida mungkin basuh diri dengan senyum dan kasih sayang
agar tak terlalu cepat kulit mengkertu dan menyesal ajal cepat datang
berusahalah menjadi setitik cahaya untuk sekitar
yang berguna untuk mencerahkan jalan setapak dalam remang
berusahalah menciptakan senyum di manapun
walau susah dan gundah gulana sedang menerpa...
Rabu, 06 Oktober 2010
ana hanyalah sebuah lukisan
dan aku pun tak pernah berharap kamu datang
walau sering bersembunyi dalam bayang
sebenarnya aku tak inginkan akan waktu itu
saat mata kita saling beradu pandang
suguhan hidangan dalam pesta
juga ajakan kamu untuk berdansa
tak seromantis alur yang sebenarnya
kita bersandiwara
saling menyakiti karna perasaan yang kita dustai
aku enggan berada di samping mu
begitu juga kamu yang pura" tersenyum mengobati lara
ana....begitu orang menyebut mu
lalu ketika aku berada di lorong
orang lain kembali memanggilmu dengan sebutan lisa
bak sebuah lukisan di dinding istana
ayu dan rupawan, namun dengan lembaran duniawi mereka dapat membelinya
di jadikan suguhan para raja
juga sebagai penobatan agar segala negosiasi menjadi lancar.
walau sering bersembunyi dalam bayang
sebenarnya aku tak inginkan akan waktu itu
saat mata kita saling beradu pandang
suguhan hidangan dalam pesta
juga ajakan kamu untuk berdansa
tak seromantis alur yang sebenarnya
kita bersandiwara
saling menyakiti karna perasaan yang kita dustai
aku enggan berada di samping mu
begitu juga kamu yang pura" tersenyum mengobati lara
ana....begitu orang menyebut mu
lalu ketika aku berada di lorong
orang lain kembali memanggilmu dengan sebutan lisa
bak sebuah lukisan di dinding istana
ayu dan rupawan, namun dengan lembaran duniawi mereka dapat membelinya
di jadikan suguhan para raja
juga sebagai penobatan agar segala negosiasi menjadi lancar.
Senin, 04 Oktober 2010
lentera
beri kesempatan aku untuk menjadi lentera
menerangkan sedikit ruangan mu yang di landa gelap
biarkan dia tertidur dengan pulas
karna kelak dia akan kembali berjalan untuk dapat menjadi cahaya
saat lembayung senja
saat semua amarah padam dan pulang pada peraduan
biarkan aku menjadi cahaya dalam lentera
menerangi sediit ruangan dalam diri mu
dan mencoba menuntun arah yang sebenarnya
menerangkan sedikit ruangan mu yang di landa gelap
biarkan dia tertidur dengan pulas
karna kelak dia akan kembali berjalan untuk dapat menjadi cahaya
saat lembayung senja
saat semua amarah padam dan pulang pada peraduan
biarkan aku menjadi cahaya dalam lentera
menerangi sediit ruangan dalam diri mu
dan mencoba menuntun arah yang sebenarnya
Minggu, 03 Oktober 2010
pengembara
untuk postingan kali ini pak tani tak ingin panjang lebar lagi, pak tani hanya ingin berbagi sedikit foto tentang pementasan musialisasi puisi dengan judul PENGEMBARA, bertempat di cimahi pada tanggal 03 oktober 2010
mungin lebih enak nya liat langsung di
sini
mungin lebih enak nya liat langsung di
sini
Jumat, 01 Oktober 2010
bersandiwara
selamat malam semuanya, selamat bergabung kembali dan selamat menikmati hidangan kampung yang sudah teremar pengaruh kota(alay), semoga dalam bacaan kali ini kalian semua akan muak membacanya, karna kata-kata yang tertera terlalu sinetron banget.
dalam perjalanan kali ini kalian harus menyediakan beberapa kantong kresek kecil yang berguna untuk menampung muntah kalian, beberapa telor busuk yang nantinya berguna untuk menimpuk layar monitor bila kalian merasa jijik dengan bacaan ini. dan yang terpenting... pastikan kalian berada di dekat WC(TOILET) karna berguna bila kalian muntah gag berenti" dan munkin tiba" perut kalian akan merasa mules"....
bagaimana dengan persyaratan nya apa sudah kalian siapkan? dan apa kalian juga sudah berada di dekat TOILET dan memastikan TOILET itu sedang kosong?????
bila sudah siap, silahkan kalian menggerutu akan tulisan bobrok yang keluar dari imajinasi orang bodoh...
sayang...., maaf aku tak seperti orang lain yang dapat bermesraan di depan umum, dan maafkan aku pula yang menyembunyikan hubungan kita, karna aku takut para pemburu berita akan mengincar kita nantinya. biarkan kita jalani begini saja ya sayang, karna lebih nikmat kita seperti ini di banding kita publikasikan hubungan kita, sedang menikah pun tak kunjung datang.
ya untuk kamu sayang, saya berusahan tak layaknya artis yang selalu super sibuk untuk menyelesaikan skrip-skrip naskah dan shoting kejar tayang...karna bila nanti waktunya, aku ingin menghabiskan seluruh waktu senja ku selalu berada di samping mu sambil melihat anak-anak kita bermain....
sayang, kamu tak risih kan bila nyatanya aku tak bisa mengabari mu setiap hari dan setiap detik, semoga perjalanan yang kamu hadapi sekarang akan menjadi bekal kelak bila kita sudah berumah tangga dan aku yang harus meninggalkan mu sendiri dengan sang buah hati di rumah karna banyak hal yang harus aku urus di luar kota sana.
semoga saja sayang....
doa ku selalu untuk mu, dan setiap iringan syair-syair pujian pada ILLAHI selalu ku selipkan untuk kesehatan dan ketegaran hati mu....
dan sayang sekali lagi aku ingin meminta maaf, bila di luar sana nama mu tak pernah aku sebutkan, melainkan aku selalu menyebutkan sebuah nama yang sudah tak asing lagi di telinga mereka.
karna satu hal yang aku tak mau mereka tau, yaitu tentang kamu. wanita terhebat yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anak ku... mungkin 2 tahun lagi kita akan bersandiwara seperti ini, dan kelak bila hari itu datang kita akan kejutkan mereka dengan kenyataan yang sebenarnya....
teruntuk : sayang.....
maaf kalo postingan kali ini lebih lebai dari yang sebelum nya, dan membuat mata kalian menjadi sakit membacanya, ini cuma salah satu permintaan dari seseorang yang sedang menikmati kehidupannya di sana.
dan maafkan juga, sekali lagi saya minta maaf untuk wanita terhebat, kalo sampai saat ini inisial kamu tak bisa di publikasikan, karna seperti yang tertera di atas, biarkan kita bermain dalam sandiwara. sampai saatnya saya akan ungkap inisial sebenarnya tentang dia....
Label:
cerpen,
curhat,
pelangi di sore hari
sajak BODONG(BOcah2 DONGo)
imajinsai bermain di atas gubuk derita
saat lapar menerjang tak tentu arah
meluluh lantahkan keyakinan serta kepercayaan
dari balik tangis terdengar seorang tertawa riang
entah sedang memikirkan apa
atau entah sedang berbuat apa.
sementara yang terpenjara adalah diri yang penuh dengan semua kecaman akan hidup
di dunia semua menjadi nyata
saat mata di paksa melihat tontonan yang selalu mengumbar jaji semata
di ladang tandus semua menjadi kaktus
saat diri terjerumus dalam lobang kakus
dua bocah saling membunuh
memperebutkan donat di genggaman.
sementara di sebuah istana dewa sedang berjudi
bertaruh, budak-budak mana yang akan segera mati
meja pertempuran diisi para tamtama
si beri manak banyak, kemudian di kirim ke ladang pertempuran
demi bela negara, demi tahta sang saka, juga demi harga diri bangsa
namun sementara mereka ternyata sedang asik melucuti baju, anak istri perwira
ini mungkin hanya gambaran yang di buat seorang anak kecil
yang sedang berimajinasi tentang sangsaka yang kini berwarna pucat
pudar, karna terhina dan di beraki oleh para cukong, dan makelar
di sini kami hanya bisa menggambarkan.
tanpa berani berkoar dan bertindak, karna kami bukan lah bidak-bidak catur
yang mudah di atur kemudian saling benturkan kepala
karna kami hanya orang-orang bodoh yang suka menghina
menghina akan kepintaran yang di miliki para sarjana-sarjana BODONG yang sedang asik duduk di meja kekuasaan
saat lapar menerjang tak tentu arah
meluluh lantahkan keyakinan serta kepercayaan
dari balik tangis terdengar seorang tertawa riang
entah sedang memikirkan apa
atau entah sedang berbuat apa.
sementara yang terpenjara adalah diri yang penuh dengan semua kecaman akan hidup
di dunia semua menjadi nyata
saat mata di paksa melihat tontonan yang selalu mengumbar jaji semata
di ladang tandus semua menjadi kaktus
saat diri terjerumus dalam lobang kakus
dua bocah saling membunuh
memperebutkan donat di genggaman.
sementara di sebuah istana dewa sedang berjudi
bertaruh, budak-budak mana yang akan segera mati
meja pertempuran diisi para tamtama
si beri manak banyak, kemudian di kirim ke ladang pertempuran
demi bela negara, demi tahta sang saka, juga demi harga diri bangsa
namun sementara mereka ternyata sedang asik melucuti baju, anak istri perwira
ini mungkin hanya gambaran yang di buat seorang anak kecil
yang sedang berimajinasi tentang sangsaka yang kini berwarna pucat
pudar, karna terhina dan di beraki oleh para cukong, dan makelar
di sini kami hanya bisa menggambarkan.
tanpa berani berkoar dan bertindak, karna kami bukan lah bidak-bidak catur
yang mudah di atur kemudian saling benturkan kepala
karna kami hanya orang-orang bodoh yang suka menghina
menghina akan kepintaran yang di miliki para sarjana-sarjana BODONG yang sedang asik duduk di meja kekuasaan
Rabu, 29 September 2010
sajak untuk para bloger
maaf pak tani lagi iseng gag ada ide buat nulis apa, jadi aja bikin tulisan kacau balau gag jelas gini, tolong jangan di hina akan tulisan nya ya... sekali lagi punten kali seandainya tulisan nya makin sembrawut... karna pak tani sedang kalut... masang kode buntut gag tembus-tembus....
kita saling beradu dalam satu wadah
dalam tulisan dan rangkaian akan berjuta kata-kata
kita hanya bisa saling menyapa
dan berteman dalam dunia maya
jalur-jalur kabel yang tertanam di mesin impor
membuat kita saling mengenal akan satu sama lain
pengaruh sinyal dan jaringan
sangat kita andalkan untuk dapat bertatap muka dan menyapa
mungkin ini adalah teknologi
ketika beberapa insan dapat menyapa dan bersatu bak satu rangkai keluarga utuh
tak dapat di pisahkan, walau hanya lewat koment yang tertera di kolom komentar
kita hanya merasakan hal yang sama
tentang dunia kita...
karna mungkin di sini kita bertemu dengan dunia kita dan berjuta kepala yang memiliki hobi yang sama
persembahan imajinasi tertuang bebas
dan dapat di baca bagi mereka yang membutuhkan nya
huft... ternyata dunia ku, kita, mereka dan dia....
ternyata teknologi tak segalak yang mereka sangka
ternyata kabel telah membuat kita kesetrum akan satu sama lain
dan juga ternyata sinyal telah mempertemukan kita
walau dalam ruang sebesar 14" saja....
tapi rasa sakau atau kerinduan sering melanda
bila sehari kita tak menyapa mereka....
saudara baru ku....
para bloger....nara blog...
kita saling beradu dalam satu wadah
dalam tulisan dan rangkaian akan berjuta kata-kata
kita hanya bisa saling menyapa
dan berteman dalam dunia maya
jalur-jalur kabel yang tertanam di mesin impor
membuat kita saling mengenal akan satu sama lain
pengaruh sinyal dan jaringan
sangat kita andalkan untuk dapat bertatap muka dan menyapa
mungkin ini adalah teknologi
ketika beberapa insan dapat menyapa dan bersatu bak satu rangkai keluarga utuh
tak dapat di pisahkan, walau hanya lewat koment yang tertera di kolom komentar
kita hanya merasakan hal yang sama
tentang dunia kita...
karna mungkin di sini kita bertemu dengan dunia kita dan berjuta kepala yang memiliki hobi yang sama
persembahan imajinasi tertuang bebas
dan dapat di baca bagi mereka yang membutuhkan nya
huft... ternyata dunia ku, kita, mereka dan dia....
ternyata teknologi tak segalak yang mereka sangka
ternyata kabel telah membuat kita kesetrum akan satu sama lain
dan juga ternyata sinyal telah mempertemukan kita
walau dalam ruang sebesar 14" saja....
tapi rasa sakau atau kerinduan sering melanda
bila sehari kita tak menyapa mereka....
saudara baru ku....
para bloger....nara blog...
Selasa, 28 September 2010
LINGKAR KOSONG (PENUH)
LINGKAR KOSONG (PENUH)
setiap detik aku selalu berfikir
menambah kinerja otak agar dapat menguak misteri
berlari ke tepi pantai
menyimak desir angin di tepian
bersembunyi di gunung
bahkan bertanya pada paranormal
sajak ini tentang klenik dan politik
yang selalu di sangkut pautkan akan pemimpin republik
juga tentang agama yang kita percaya
tentang peci, sarung dan berbagai hal yang di sembahnya
mungkin politik adalah klenik
tapi agama adalah pegangan hidup
pada musim politik para dukun kaya raya
banyak pemimpin yang mendekat minta petuahnya
namun ketika terpilih semua jadi berbeda
korupsi dan pembantaian masal meraja lela
mungkin mereka yakin alur hidup berbangsa
namun mereka tak pernah percaya akan hidup beragama
sembahyang hanya mencari perhatian publik
memberi fakir miskin dan yatim untuk mendapat suara terbanyak
ah klenik......politik
yah politik.....klenik
main intrik untuk dapat perhatian publik
kemudian menjadi budak kehidupan yang penuh iblis dan setan
Senin, 27 September 2010
SETELAH KOMA
SETELAH KOMA
aku berdiri angkuh
sementara ribuan orang disana resah menunggu ajal
aku busungkan dada
sedang bocah-bocah susah mencari tempat bermain
aku bermandi tahta
sedang yang kecil selalu jadi tumbal
aku bergelimang harta
sementara petani resah harga pupuk tinggi
kemudian pada satu masa
aku di sentil TUHAN
tersungkur ke tanah
dengan tubuh kaku tak berdaya
semua yang tak kuketahui akhirnya berkata
dan menyudutkan ku pada lubang nista
terlambat aku menyadari permainan waktu
karna ternyata semua harus di pertanggungjawabkan
sedang sekarang aku tak dapat berbuat apa-apa
layaknya cicak terperangkap dalam botol
aku berdiri angkuh
sementara ribuan orang disana resah menunggu ajal
aku busungkan dada
sedang bocah-bocah susah mencari tempat bermain
aku bermandi tahta
sedang yang kecil selalu jadi tumbal
aku bergelimang harta
sementara petani resah harga pupuk tinggi
kemudian pada satu masa
aku di sentil TUHAN
tersungkur ke tanah
dengan tubuh kaku tak berdaya
semua yang tak kuketahui akhirnya berkata
dan menyudutkan ku pada lubang nista
terlambat aku menyadari permainan waktu
karna ternyata semua harus di pertanggungjawabkan
sedang sekarang aku tak dapat berbuat apa-apa
layaknya cicak terperangkap dalam botol
Sabtu, 25 September 2010
ada yang bertanya pada ku
"dimana letak keyakinan?"
sebelum menjawab ada yang ingin ku pertanyakan....
"dimana letak kejujuran?"
di rangkai dan di bentuk menyerupai apapun kehendak kita
ingin menjadi boneka, taplak meja, dan bahkan tatakan wajan pun jadi
tapi ingin serupa apa yang sedang melintas di dalam benak kita?
layaknya kertas yang belum terkontaminasi dengan imajinasi
masih polos dan kemudian di beli untuk di tuangkan rangkaian basi atau pujian basa-basi
seperti apa cerita yang mengembang akhirnya di sana
ketika kita menuangkan logika, tanpa menghiraukan letak sang PENCIPTA
dalam ruang gelap mungkin kita bisa dengan mudah terantuk tembok dan terjatuh
namun pernah aku berguru pada orang buta
yang bisa menanam padi, serta ubi jalar di rumah nya
serta tau dimana letak kantor kelurahan, juga tempat ia memanjatkan segudang rasa syukurnya
memang bermain kata-kata itu indah
seindah gemericik hujan yang membasahi ladang gersang
tapi pernah kita mati dalam ucapan lisan
karna logika tercerna secara mudah dengan berjuta pikiran yang terus beterbangan
"dimana letak keyakinan?"
sebelum menjawab ada yang ingin ku pertanyakan....
"dimana letak kejujuran?"
sajak 1%
sebuah benang bisa dengan mudah di sulamdi rangkai dan di bentuk menyerupai apapun kehendak kita
ingin menjadi boneka, taplak meja, dan bahkan tatakan wajan pun jadi
tapi ingin serupa apa yang sedang melintas di dalam benak kita?
layaknya kertas yang belum terkontaminasi dengan imajinasi
masih polos dan kemudian di beli untuk di tuangkan rangkaian basi atau pujian basa-basi
seperti apa cerita yang mengembang akhirnya di sana
ketika kita menuangkan logika, tanpa menghiraukan letak sang PENCIPTA
dalam ruang gelap mungkin kita bisa dengan mudah terantuk tembok dan terjatuh
namun pernah aku berguru pada orang buta
yang bisa menanam padi, serta ubi jalar di rumah nya
serta tau dimana letak kantor kelurahan, juga tempat ia memanjatkan segudang rasa syukurnya
memang bermain kata-kata itu indah
seindah gemericik hujan yang membasahi ladang gersang
tapi pernah kita mati dalam ucapan lisan
karna logika tercerna secara mudah dengan berjuta pikiran yang terus beterbangan
dilema
kembali terkapar di persimpangan
ketika ribuan orang berlarian menulis sajak cinta
sedangkan di depan mata ribuan orang mati terkapar
dengan terus mengencangkan ikat pinggang mereka
kembali tanda tanya besar mampir di kepala
saat harus tertidur berbantal gundah gulana
tentang saudara yang menunggu mati di tepi kubur
juga tentang bayi yang di rebus karna sudah tak bisa beli nasi
dari linangan imajinasi yang terkumpul
hanya menjadi janji-janji basi
serigala merauk keuntungan dari balik jeruji
makelar menarik pedati milik pengembara
lambang keadilan di permainkan bak bola tangkas
tuak kencing kuda di siram ke para janda-janda muda
ketika di atas langit pecah akan rasa
karna para penjudi sedang gila menyiksa
ketika ribuan orang berlarian menulis sajak cinta
sedangkan di depan mata ribuan orang mati terkapar
dengan terus mengencangkan ikat pinggang mereka
kembali tanda tanya besar mampir di kepala
saat harus tertidur berbantal gundah gulana
tentang saudara yang menunggu mati di tepi kubur
juga tentang bayi yang di rebus karna sudah tak bisa beli nasi
dari linangan imajinasi yang terkumpul
hanya menjadi janji-janji basi
serigala merauk keuntungan dari balik jeruji
makelar menarik pedati milik pengembara
lambang keadilan di permainkan bak bola tangkas
tuak kencing kuda di siram ke para janda-janda muda
ketika di atas langit pecah akan rasa
karna para penjudi sedang gila menyiksa
Kamis, 23 September 2010
ODE KAMPUNG #4: BANTEN ART FESTIVAL DI TAMAN BUDAYA RUMAH DUNIA
Tanggal 3 sd 5 Desember 2010
Setelah Ode Kampung I “Temu Sastrawan se-Indonesia” dilaksanakan pada bulan Februari 2006 yang dihadiri oleh 150 satrawan, Ode Kampung II “Temu Komunitas Sastra se-Indonesia” pada bulan Juli 2007 yang cukup menghebohkan konstelasi kesusastraan Indonesia, terutama dengan “Pernyataan Sikap” yang ditandatangani oleh lebih dari 200 sastrawan, dan Ode Kampung III “Temu Komunitas Literasi” pada tanggal 5-7 Desember 2008 yang mencoba menyebarkan virus kebajikan melalui buku-buku dan gerakan literasi di Indonesia, kini Rumah Dunia kembali menyelenggarakan Ode Kampung IV, hajatan yang dinanti-nanti oleh para budayawan, seniman, sastrawan, penggiat literasi, para akademisi dan seluruh lapisan masyarakat ini.
Seyogianya, Ode Kampung adalah program kerja tahunan Rumah Dunia. Namun karena pelbagai kendala, terutama restrukturisasi internal, akhirnya Ode Kampung ini molor setahun dari yang dijadwalkan. Selain itu persoalan dana menjadi alasan klasik yang sedikit mengganggu. Namun dengan sedikit tekad dan nekad serta motivasi dari pelbagai pihak, akhirnya kami memberanikan diri menggulirkan kembali event ini. Ode Kampung IV yang akan diselenggarakan pada tanggal 3-5 Desember 2010 ini kami beri judul “Banten Art Festival.” Berbeda dengan Ode Kampung terdahulu yang lebih banyak kegiatan diskusi, kegiatan kali ini akan lebih memfokuskan pada wilayah seni pertunjukkan, mulai dari seni tradisional hingga kontemporer. Tontonan menarik mulai dari seni tari, musik, teater dan monolog, serta pembacaan puisi dari para penyair terpilih dari perwakilan kebudayan di Indonesia akan kami ramu menjadi tontonan apik yang sayang untuk dilewatkan. Jika tak ada aral melintang, kita akan menonton lebih dari 25 pementasan. Selain itu, untuk merangsang minat pelajar dan mahasiswa serta khayalak, para seniman yang tampil itu akan diminta memberikan ilmu dan pengalamannya dalam bentuk workshop. Pada momen ini juga akan diselenggarakan diskusi yang guyub dengan para pembicara yang ahli di bidangnya.
Seperti kegiatan Ode Kampung sebelumnya, kami mengundang siapapun Anda yang ingin terlibat pada kegiatan ini. Caranya sederhana. Anda tinggal mendaftarkan diri melalui email: odekampungempat@yahoo.com cc: venayaksa80@yahoo.com dan gm_cakrawala@yahoo.com dan bersedia untuk membayar Rp. 50.000. Dana ini adalah untuk menyewa penginapan di rumah warga kampung. Selama mengikuti kegiatan ini biaya makan ditanggung oleh Rumah Dunia.
Total biaya yang dibutuhkan Rp. 120 juta. Dana awal dari block grant Rintisan Balai Belajar Bersama sebesar Rp. 20 jt. Seperti biasa, gotong royong. Jika ada yang kelebihan rezeki, silahkan tranfer ke BCA Serang, norek 245 188 5733, an Asih Purwaningtyas.
Setiap peserta Ode Kampung IV yang telah mendaftar, secara berkala akan terus kami umumkan hingga mencapai batas maksimal peserta sejumlah 400 orang. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa mengakses www.rumahdunia.net. Terimakasih.
Salam,
Ketua Pelaksana
Firman Venayaksa
www.facebook/venayaksa
----------------------------------------------------------------------------
SC: Gol A Gong, Toto ST Radik, Halim HD, Nandang Aradea, Sulaiman Djaya, Dadie RsN, Arief Kirdiat, Maya Rani Wulan.
copy paste dari
rumah dunia
Setelah Ode Kampung I “Temu Sastrawan se-Indonesia” dilaksanakan pada bulan Februari 2006 yang dihadiri oleh 150 satrawan, Ode Kampung II “Temu Komunitas Sastra se-Indonesia” pada bulan Juli 2007 yang cukup menghebohkan konstelasi kesusastraan Indonesia, terutama dengan “Pernyataan Sikap” yang ditandatangani oleh lebih dari 200 sastrawan, dan Ode Kampung III “Temu Komunitas Literasi” pada tanggal 5-7 Desember 2008 yang mencoba menyebarkan virus kebajikan melalui buku-buku dan gerakan literasi di Indonesia, kini Rumah Dunia kembali menyelenggarakan Ode Kampung IV, hajatan yang dinanti-nanti oleh para budayawan, seniman, sastrawan, penggiat literasi, para akademisi dan seluruh lapisan masyarakat ini.
Seyogianya, Ode Kampung adalah program kerja tahunan Rumah Dunia. Namun karena pelbagai kendala, terutama restrukturisasi internal, akhirnya Ode Kampung ini molor setahun dari yang dijadwalkan. Selain itu persoalan dana menjadi alasan klasik yang sedikit mengganggu. Namun dengan sedikit tekad dan nekad serta motivasi dari pelbagai pihak, akhirnya kami memberanikan diri menggulirkan kembali event ini. Ode Kampung IV yang akan diselenggarakan pada tanggal 3-5 Desember 2010 ini kami beri judul “Banten Art Festival.” Berbeda dengan Ode Kampung terdahulu yang lebih banyak kegiatan diskusi, kegiatan kali ini akan lebih memfokuskan pada wilayah seni pertunjukkan, mulai dari seni tradisional hingga kontemporer. Tontonan menarik mulai dari seni tari, musik, teater dan monolog, serta pembacaan puisi dari para penyair terpilih dari perwakilan kebudayan di Indonesia akan kami ramu menjadi tontonan apik yang sayang untuk dilewatkan. Jika tak ada aral melintang, kita akan menonton lebih dari 25 pementasan. Selain itu, untuk merangsang minat pelajar dan mahasiswa serta khayalak, para seniman yang tampil itu akan diminta memberikan ilmu dan pengalamannya dalam bentuk workshop. Pada momen ini juga akan diselenggarakan diskusi yang guyub dengan para pembicara yang ahli di bidangnya.
Seperti kegiatan Ode Kampung sebelumnya, kami mengundang siapapun Anda yang ingin terlibat pada kegiatan ini. Caranya sederhana. Anda tinggal mendaftarkan diri melalui email: odekampungempat@yahoo.com cc: venayaksa80@yahoo.com dan gm_cakrawala@yahoo.com dan bersedia untuk membayar Rp. 50.000. Dana ini adalah untuk menyewa penginapan di rumah warga kampung. Selama mengikuti kegiatan ini biaya makan ditanggung oleh Rumah Dunia.
Total biaya yang dibutuhkan Rp. 120 juta. Dana awal dari block grant Rintisan Balai Belajar Bersama sebesar Rp. 20 jt. Seperti biasa, gotong royong. Jika ada yang kelebihan rezeki, silahkan tranfer ke BCA Serang, norek 245 188 5733, an Asih Purwaningtyas.
Setiap peserta Ode Kampung IV yang telah mendaftar, secara berkala akan terus kami umumkan hingga mencapai batas maksimal peserta sejumlah 400 orang. Untuk informasi lebih lanjut, Anda bisa mengakses www.rumahdunia.net. Terimakasih.
Salam,
Ketua Pelaksana
Firman Venayaksa
www.facebook/venayaksa
----------------------------------------------------------------------------
SC: Gol A Gong, Toto ST Radik, Halim HD, Nandang Aradea, Sulaiman Djaya, Dadie RsN, Arief Kirdiat, Maya Rani Wulan.

copy paste dari
rumah dunia
Langganan:
Postingan (Atom)
