Rabu, 07 April 2010

puisi BERANTAI

bergerak....
tidak aku masih ingin tidur
bangun
tidak ayam jantan belom mengabarkan datang pagi

cepat bergegas
malas masih enak memeluk guling dan bantal
ah kau pemalas
bukan aku seorang pemimpi yang hidup penuh kreasi

ya sudah segera cuci muka dan lalu gosok gigi
ah tak mandi ataupun mandi pun tetap aku akan selalu terlihat seperti itu
tak ada bedanya

ah kamu....

uh mengganggu saja mimpi orang....

mana puisinya?
sudah aku tulis dalam mimpi ku barusan
dengan latar-latarnya juga tak lupa aku gambarkan

sekarang mana??????

iya tunggu sebentar, aku mau seduh dulu kopi dan melinting tembakau dulu...

begini....

untuk yang berjasa di tengah suasana yang serba kekurangan
untuk mereka yang bisa menikmati ikan teri hanya 1 bulan sekali

menjerit di tengah ladang
terjepit antara harapan dan tunggakan makelar
yang terpentok di sudut yang semakin menyudutkan
kami kecil
tapi kami tak kerdil

kami jorok
tapi kami tak hina

atas dasar nama kampung tengah
antara jeritan cacing dan bakteri lainnya
yang terhimpit di antara usus 12 jari
dan saluran lambung
jangan kalian gelar konser di sana
karna sampai kapan pun takkan ada yang akan mendengar kalian...

wahai burung pemakan bangkai
jangan pernah hinggap disini
jangan kalian gerogoti luka kami
kami tak ingin luka di kaki kami harus di amputasi
dari mana nanti biayanya

bukan untuk menangis dan merenung
karna malam pun kami harus memikirkan makan apa kami sekarang dan esok pagi?
apa harus kami rebus belatung yang menempel di celah-celah jari kaki kami
atau menggodok bakteri yang kami pelihara di dalam tubuh kami???

ini merah putih
tempat tumpah darah dan menumpahkan darah
begitu alunan bait dalam sajak lagu negara pertiwi
mewah menjadi putih
langkah pembawa pacul yang semakin merah

mereka menyia-nyiakan sebutir nasi di meja jamuan
sementara kami memakan batu yang kami pepes agar menjadi ubi rebus
berpesta pora di tengah lapar yang meradang
sementara kami membiarkan belatung menghujam jantung kami

lihat...

mana yang harus ku lihat...

itu...

ah sudah biasa itu hanya boneka penusir hama...

bukan yang itu...

lalu yang mana?

itu yang bersembunyi di balik riak gelombang

ah itu sudah tak pernah lagi di hiraukan oleh mereka

ibu pertiwi menangis
melihat merah putih terbalut jasat petani
yang sedang di santap burung pemakan bangkai
dengan amat beringas mencabik-cabik merah putih
agar mendapatkan daging segar dari jasad mayat yang baru saja mati
kami yang memberi kalian makan
tapi kami sendiri yang dimakan...

maaf ibu pertiwi
air matamu tak dapat hentikan mereka
yang selalu bersulang di tengah kerumunan nafsu dunia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar