Selasa, 14 Desember 2010

ELING

tuhan... malam ini sebotol wiskie di tangan ku
apa aku berdosa?
sedang lonte di sana asik memperdagangkan tubuh

tuhan... malam ini sebotol wiskie di tangan ku
apa aku salah?
sedang mereka yang berdasi masih liar memakan hak asasi

tuhan... malam ini sebotol wiskie di tangan ku
apa aku tak beragama?
sedang mereka saling memperkosa agama mereka

tuhan... malam ini sebotol wiskie di tangan ku
apa aku binatang?
sedang mereka asik ngentot dan jual alat kelamin mereka di sembarang tempat

tuhan... malam ini sebotol wiskie di tangan ku
apa aku tak bermoral?
sedang di sana majikan memperlakukan manusia bak binatang

tuhan... malam ini sebotol wiskie di tangan ku
apa aku tak memiliki cinta?
sedang di sana ribuan orang berkata cinta, kemudian lepaskan keperjakaan & keperawanannya

tuhan... malam ini sebotol wiskie di tangan ku
apa aku tak berakal?
sedang di sana banyak badut menelanjangi diri sendiri

tuhan... malam ini sebotol wiskie di tangan ku
apa aku pujangga?
sedang di sana banyak tipu daya tentang adegan analisa

tuhan... malam ini sebotol wiskie di tangan ku
apa aku anak kecil?
sedang di sana, mereka asik memainkan peran.

tuhan... malam ini aku mabuk....
apa boleh aku memanggil nama MU, semua nama lengkap MU beserta pujiannya?
yang kemudian menyentuh Qolbu.
kemudian membuat mereka terperangkap dalan renungan panjang tentang cerita si pemabuk dengan sebotol wiskie di tangan nya.

Senin, 13 Desember 2010

1/2

1/2 nadiku berhenti
ketika waktu menunjukkan pukul 15.30
1/2 ragaku melayang
ketika sapaan angin di antara sore dan petang
1/2 jiwaku tertinggal
ketika langit berwarna orange dan jingga
1/2 keyakinan ku tertumpuk
ketika gumaman berkumpul di satu atap
1/2 harapan ku terpatri
ketika semua saling memeluk dan berbagi

namun semua hanya 1/2

1/2 dari 1/2 yang tersisa
1/2 dari 1/2 yang menggebu-gebu untuk segera berlari
1/2 dari 1/2 keyakinan yang katanya penuh

karna semua yang kulakukan hanya 1/2 - 1/2

Minggu, 05 Desember 2010

di balik bias

aku tak ingin mengingat MU karna orang lain
dan aku tak ingin mengenal MU karna sesuatu
biarkan rasa ini datang secara sendirinya
tanpa ada hal yang mengganggu
dan benar adanya datang karna bisikan hati
karna keyakinan bukan hal yang harus di paksakan
begitu juga dengan aku yang mencoba mengenal MU

dari semua warna yang ku kenal
aku ingin merasakan nya sendiri
tak ingin berucap hitam itu hitam karna pendapat mereka
dan tak ingin memilih putih itu putih karna menurut mereka

aku memang insan yang hina
tapi percaya lah akal fikiran ku masih lah berfungsi
juga tentang keyakinan ku masih lah berjalan sesuai layak nya

biarkan anak kecil berlari mencari dimana tempat ternyaman
jangan hadaihkan dia mainan untuk bersarang di ladang penyamun

Senin, 29 November 2010

untuk yang terpisah

menari di balik buih
bersama ombak berlarian mengejar mimpi
nikmati sayup yang datang menghampiri
kemudian biarkan semua menyelimuti alur di nadi

mencari jejak yang terhapus perlahan
dan jatuh pada pelukan waktu
di dalam remang gelap yang datang
nyalakan api dalam tungku imajinasi

di dalam luka ada senyum tersisa
di jamuan hidangan akan laksana
mencari hiburan hati terluka
dan berbaring dalam logika

di sini babak baru dimulai
saat sepi di atas hamparan pasir putih
melarikan diri dari kenyataan yang ada
menjerumuskan jiwa saat bayangan melayang

di saat ini lentera kembali menyala
mengundang kunang-kunang untuk kembali berkumpul
pada saat malam ketika setelah senja
tak ada lagi hiasan pelangi di tepian...


nb : untuk yang kini telah berpisah jauh, maaf mungkin hanya saat malam dan sendiri aku merenung akan dirimu yang kini entah dimana keberadaan nya, aku hanya ingin bersikap adil. tapi ternyata kamu acuhkan semua tentang tawaran ku...
terimakasih kamu telah mengizinkan aku untuk menyusup sejenak kedalam ruang rahasia mu, dan terimakasih kamu telah menyentuhku dengan amat sangat hangat....

Selasa, 23 November 2010

NALURI

sisa-sisa suara di ujung cerita
terbawa angin menuju ke arah mana
di seling riang burung bekejaran menunggu berita
tentang landasan di ubah ladang nafsu sejengkal

logika di taro di ubun-ubun
hati nurani di jual ke pengepul
mata terbuta rengek kura-kura
langkah terhenti pluit berbunyi

darimana datang doa?
sedang kita sudah tak percaya
darimana ada keyakinan?
sedang pria murtad akan kejantanan

poros awan terus berlarian
gantikan panas dengan hujan badai
harimau dan serigala segera ke bunker
selamatkan diri dari amuk masa

lampu pinggian jalan mulai menyala
mengusik jangkrik dari tidur panjangnya
bulan tampakkan muka
beri kesempatan setan-setan berpesta pora.

di antara slangkangan semua pecah
sakit pun terasa surga
dendam di hati ketika kedua tangan meraba
menjadi bisu ketika punya mu di kenyot nya.

Senin, 15 November 2010

00.00



dentum pesta tepat pukul 00.00
dalam aula singga sana
dan ribuan kepala dnegan maksud yang berbeda
berbaur menjadi satu keluarga

dentum pesta tepat pukul 00.00
saat semua terpejam dan melahap mimpi
beberapa raga bersulang dan berpesta
dengan tebaran senyum dan suka cita

dentum pesta tepat pukul 00.00
satu usia melayang dan beranjak menjadi tua
mendewasakan diri tanpa dia pinta
juga melangkahkan kaki walau terpapa

dentum pesta tepat pukul 00.00
dering telpon menyusup ke lubang telinga
ketika lilin tertiup dan kegiatan sakral pecah
menjadi harap akan susunan anak tangga

dentum pesta tepat pukul 00.00
dia duduk di ujung tenda pesta
tanpa ada yang menghiraukan air mata tumpah
membanjiri jiwa-jiwa yang terpesona akan suasana

dentum pesta tepat pukul 00.00
dia kembali bertanya APA pada setiap yang menyapa
APA saya telah benar dewasa?
APA saya harus merayakannya?
APA saya telah siap akan diri?
APA di sana tahu akan saya?
APA saya akan tetap berdiri?
APA esok kelam hadir setelah pesta?
APA kemudian saya hanya akan menjadi sejarah?
yang terangkum dalam bongkahan hati yang haus akan SENJA
atau APA setelah ini saya hanya akan menjadi jasad tak bernyawa?

Kamis, 11 November 2010

KONTOL dan KONTROL

ada yang bertanya ketika malam tertidur
dia meminta sesuap nasi untuk cacing dalam perutnya
dia berkeluh kesah karna pagi akan kembali memaksanya untuk berlari..
bersembunyi di liang TAI.
berisi BABI dan buruan imajinasi.
yang terpenjara dalam hidangan KONSPIRASI

kalau seandainya terasi wangi
mengapa sampai burung ku muntah ketika masuk ke lubang betina?
seandainya dunia nyata?
mengapa banyak hal yang samar?
seandainya waktu benar berputar?
mengapa tak ada pendewasaan?

mereka pecah di jalan
ketika otak tercampur dengan otot
ketika yang berkata adalah jajaran KONTOL-KONTOL bertameng baja
membersihkan jalan untuk BERSENGGAMA

Senin, 08 November 2010

NAK BELAJAR LAH KAMU, JANGAN TIDUR TERUS NANTI BISA JADI BODOH, NAK GUNAKANLAH MATAMU, NAK KALAU BERTANYA MENGGUNAKAN HATI...NAK SEBELUM IBU DAN BAPAK MU MATI. KAMI TINGGALKAN WARISAN UNTUK MU

nak berjalan itu ke depan
melangkah itu mundur
mati itu tertidur
berbasuh diri itu bermain lumpur
nak melihat itu kedepan
berpaling itu murtad
melirik itu tikus
menoleh itu cicak
mengedipkan mata itu binal
nak apa yang ada dalam kantong keresek mu?
sekantong sperma untuk kau jadikan otak?
nak kaki itu sepatu besi
tangan itu belati
pikiran itu bom atom
keyakinan itu matahari
mata itu teropong.
nak....
dimana kursi?
nak kenapa bapak mati?
sebelumnya baru saja dia meninggal....
nak, di sini kita bersenggama
nak, bapak mu dulu pelacur
ibu mu penggali kubur
nak...kencing mu kini berwarna putih
nak..itu bunga
nak..itu celana dalam
nak...itu kantong sperma
nak...itu lubang buaya
nak...itu jendral logika
nak...itu kodok sawah
nak...itu tahi lalat
nak...itu botol
nak...itu buah
nak...itu ladang masalah

Rabu, 03 November 2010

yang selalu menjadi perdebatan, bisa saling membunuh, yang di jadikan alasan, berusaha berebut kuasa, saling duduk menduduki dan saling sikut sana sini

TAI




maaf bila mungkin beberapa hari kedepan ini pak tani akan memosting kan sesuatu yang sangat fulgar, seronok, jorok dan sangat sentimental. tapi sebenarnya pak tani tak ingin menyebarluaskan bahasa kotor tersebut tapi pak tani inginkan kalian melihatnya dari segi yang berbeda....

Selasa, 02 November 2010

di ujung lentera


 kejujuran di ujung lentera
di balik bias cahaya lilin ketika senja
terukir dengan terpaksa
demi secuil terang akan jalan

ketika sketsa-sketsa lakon silih berganti
dan mimik-mimik topeng saling bergulir
juga tamparan dan cercahan dari buih-buih liur di mulut
ada adegan terekam tentang sajak diri

saat hati harus menyetubui pikiran dan raga
di kala kesimpang siuran meredam sisi gelap
di saat itu diri tak jadi abu-abu
karna hitam adalah hitam
dan yang berjalan adalah dinamo jam

kejujuran di ujung lentera
yang menjadi titik terang dalam sisi gelap.

Senin, 01 November 2010

GOL A GONG

bak mutiara di tengah rawa
lukisan kehidupan dari sang pencipta
saat keterbatasan bukan lah kendala
ia ciptakan keindahan yang berguna

ketika ku tak bisa berjalan dengan kaki
ku gunakan tangan untuk berdiri
ketika tangan tak bisa berfungsi
ku gunakan akal fikiran tuk mengejar mimpi

demi senyum untuk anak negri
dan satu goresan ku beri
karna TUHAN bukan tak mengetahui
tapi inilah kesempurnaan akan diri....



puisi ini terisnpirasi ketika saya dan kawan-kawan berkunjung ke rumah dunia yang di gawangi oleh sang maestro mas gol a gong. beliau orang yang memiliki kreatifitas yang sangat tinggi dan keterbatasan bukan lah menjadi kendala beliau untuk meraih mimpinya (menggenggam dunia) kini siapa orang yang tak mengenal karya-karya emas beliau. tidak sampai di situ tapi masih banyak lagi sumbangsi beliau terhadap perkembangan membaca dan kesenian di indonesia.... salah satunya adalah ode kampung #4....
kalian wajib untuk menyambangi kediaman mas gol a gong.....karna selain orang nya yang sangat ramah, dan juga banyak hal lain nya yang dapat kita petik dari beliau.....

Kamis, 28 Oktober 2010

ketika doa

jangkrik-jangkrik bernyanyi di tepian zaman
ketika ucapan berubah menjadi doa
seperti gemericik hujan yang basuh raga
melenggangkan harapan dari tumpuan badan

sedikit harap hilang di meja jamuan
begitu juga dengan nyala lilin di ujung sumbu
menjadi butir-butir indah beterbangan
yang di hadiahkan kunang-kunang saat diri meragu

satu pinta akan kehidupan yang layak
tak terkabul dari tubuh mungil yang semakin mengering
bukan dunia ini adalah ladang tandus tak pernah di sapa hujan?
tapi ada pakaian yang lebih layak dari pada nikmat dunia
yang bersifat kekal pada waktunya
ketika kita dapat bertegur sapa dengan pencipta
tanpa ada batasan di hadapan

Rabu, 27 Oktober 2010

DITUNGGANGI

aroma liang lahat di ujung misiu
berkeliaran bebas tanpa melihat sekitar
pecahkan amarah
muntahkan darah dari tubuh-tubuh tak berdosa

berjuta malaikat pencabut nyawa
bertameng helm baja berdiri tegak menebar pesona
menunggu aba-aba dari sang kusir di kursi kerajaan
melenyapkan nyawa terpisah dengan raga

satu tontonan menarik ketika setan menunggangi jiwa
otak, akal dan hati di belenggu menuju tarian pesta
pesta dajal berlakon penguasa
memeras rakyat untuk dapat menceboki mereka

dalang menari dengan segelas anggur di tangan
para wanita ditiduri dengan perasan susu sembarang
bocah-bocah di tembak mati agar tak berkicau
derap langkah terpatri di depan gerbang pintu makam.

Senin, 25 Oktober 2010

dalam waktu

putaran roda mengejar langkah waktu
menuju dimensi antara rangkaian mimpi
membeli ketulusan hati memburu raga yang lebih tinggi
dalam ruang nuansa memancarkan pesona
dalam wujud yang berusaha jadi nyata

mahkota di atas kepala bertengger mesra
dan sejuta gerak telunjuk mengarah acak
menjadi tragedi terkubur di sungai musi
di gerus gelombang saat kapal angkuh memecah tenang

liukan awan-awan saat senja menjelang
diikuti sapa mesra malaikat pencabut nyawa
mata melihat, mulut tak sanggup berucap
mengecap taubat telah menginjak-injak semut dan rayap

dalam relung waktu terukir bingkai kehidupan
tertumpu tingkah pola yang menjadi wacana
akan cambuk juga siksa para terdakwa
di hadapan sang pemilik dunia dan raga.

Sabtu, 23 Oktober 2010

derap

dawai-dawai nada kehidupan
terangkum dalam barisan lamunan senja
di tepian rinihan sajak
dari lantunan langkah terseok

baris demi baris kalimat terlampaui
mendewasakan yang hidup di dunia

kepulan asap kejenuhan tersulut
tergantung di tembok-tembok ratapan

berada sejengkal dari cahaya
merubah gelap yang dibutakan mata
meraba dengan seksama
menyentuh ajal di pelupuk mata

jangan pernah menjadi kayu bakar
menghanguskan semuda dengan lahap
berusahalah menjadi obor
menerangi jalan setapak yang pasti mengantar ke tujuan

Selasa, 19 Oktober 2010

tertunduk

dimensi mimpi mengalir di ladang emosi
tangan membasuh air mata
dari gemericik hujan yang turun di sela-sela mata
membawa satu petanda nada yang sedang bergentayangan

rasa di belenggu di antara
wangi bunga terhendus dalam jiwa
dalam raga terpancar satu pesona
dari insan yang terhimpit dunia

Minggu, 17 Oktober 2010

waktu malam di anyer

dan aku kembali terperangkap dalam permainan waktu
kala bibir tipis mu melantunkan nada merdu
menyapa hati dengan gerakan menggoda
dan mencumbu harapan yang lama aku tinggalkan

dalam elegi tentang rasa
mungkin kita bak obor di tengah padang ilalang
menjadi terang di sekitar
namun tumpah menjadi api dan membakar segala

menikmati rasa yang telah lama hanyut
terbawa lumbung jiwa menuju satu penjara raga
ini permainan rasa yang kita ukir di tepian pantai
yang kemudian hanyut karna botol terbawa arus menuju ke tengah

kita lepaskan semua rasa dari beringin dunia
berguguran bak daun jati di musim semi
pecah ruah menumpahkan segala curahan tentang kebebasan
kemudian kembali berlayar karna layar tlah menunggu

Rabu, 13 Oktober 2010

slogan

awalnya kita adalah sama
dari tulang rusuk adam dan hawa
namun karna bumi harus berevolusi
akhirnya kita membedakan diri

tapi sebenarnya kita masih satu rumpun
tanah yang sama, juga air susu yang sama pula

mengapa kita tak saling mengeratkan tangan?
berjabatan dan melangkah beriringan...
tak ada satu agamapun yang inginkan perpecahan
injil, taurat, zabur dan alquran pun mensiratkan tentang perdamaian

tercipta teknologi hanya menjadi ladang konspirasi
membunuh dan meracuni berniat mengurangi populasi
sedang slogan besar di jalan utama berkata cerdas
tentang penggunaan kondom juga KB
namun nyatanya rencana tak sesuai perhitungan di atas kertas
sampai akhirnya kita bak kutu-kutu yang di pitas
bom bardir sana sini untuk mengurangi populitas

Senin, 11 Oktober 2010

bisik alam

layar berkembang di samudra lepas
burung-burung camar panik dari balik sarang
penyu-penyu berlarian ke pesisir
lumba-lumba sibuk selamatkan jutaan jiwa

laut berteriak, menyapu pencuri ikan
gunung-gungung muntah, semburkan lahar panas ke kota-kota
hutan dan dedaunan marah
menimbun mereka dengan lumpur segar

mari kita bertafakur
menyadari keegoisan yang tak kunjung usai
mungkin mereka sedang berkata
"sudahi semua dan sisakan kami untuk anak cucumu kelak"

resapi bisikan dedaunan yang sedang melantunkan doa
coba kita bersatu dengan alam
dan hargai mereka sebagai ciptaan TUHAN

Jumat, 08 Oktober 2010

LANGKAH

kematian adalah bagian dari hidup
sedang waktu merupakan bagian akan perjalanan
kawan, saudara dan lawan adalah bumbu peemainan
dan pengalaman bekal, yang akan menjadi cerita anak cucu kelak

jangan pernah melamun akan putaran roda
nikmati sayup-sayuo angin yang menyapa diri
sebida mungkin basuh diri dengan senyum dan kasih sayang
agar tak terlalu cepat kulit mengkertu dan menyesal ajal cepat datang

berusahalah menjadi setitik cahaya untuk sekitar
yang berguna untuk mencerahkan jalan setapak dalam remang
berusahalah menciptakan senyum di manapun
walau susah dan gundah gulana sedang menerpa...